neobux

klik aja deh

Askep Stroke

Rabu, 20 Januari 2010

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE

A. KONSEP DASAR STROKE
I. PENGERTIAN
Stroke juga dikenal dengan istilah Cerebro Vaskuler Desease adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan baik fokal maupun umum terjadi secara mendadak sebagai akibat gangguan peredaran darah cerebral.
Faktor resiko antara lain :
1. Usia tua
2. Hipertensi
3. Penyakit jantung
4. Hiperlipidemia
5. Diabetes mellitus
6. Kontrasepsi oral
7. Merokok
Beberapa factor resiko mungkn terdapat pada satu orang dan hal ini juga menimbulkan resiko lebih besar pada orang itu.
II. ETIOLOGI


1. Trombosis Cerebral
- Penyumbatan pembuluh darah otak ini disebabkan oleh adanya atherosclerosis.
- Pada umumnya menyerang orang-orang lanjut usia
- Terjadi pada saat tidur atau beberapa waktu setelah bangun tidur
2. Emboli Cerebral
- Penyumbatan pembuluh darah otak oleh karena bekuan darah, lemak ataupun udara.
- Pada umumnya berasal dari trombos dijantung (dinding atau katub) yang terlepas dan menyumbat system arteri cerebral.
- Berlangsung cepat dan gejala dapat timbul dalam 10-30 detik.
3. Perdarahan Intracerebral
- Terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak karena atherosclerosis dan hipertensi.
- Terjadi pada usia di atas 30 tahun.

III. GEJALA UMUM
Gejala yang paling sering dijumpai umumnya dikelompokkan dalam 4 syndrom, yaitu ;
1. Dyskenisia atau gangguan fungsi motorik, dapat berupa kelumpuhan (hemiplegic atau paraplegi), palisi (kehilangan total dari kekuatan motoriknya), paresis (kehilangan sebagian kekuatan otot motorik).
2. Dysanesthesia atau gangguan fungsi sensorik, dapat berupa hypoanasthesia dan anesthesia, gangguan penciuman, gangguan penglihatan dan gangguan rasa pada lidah.
3. Dyspasia atau gangguan berbicara.
4. Dysmentia atau gangguan mental dengan manifestasi sebagai neurosis, psikosis, keadaan kebingungan dan reaksi depresif.
IV. PATOFISIOLOGI
Gangguan peredaran darah otak dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :
a. Stroke Non Hemoragik (SNH) :
1. TIA (Transient Ischemic Attack) atau stroke kecil.
2. RIND (Reversible Ischemic Neurological Deficit)
3. Progressive Stroke (Stroke In Evolution)
4. Completed Stroke
5. Trombosis Stroke
6. Emboli Stroke
b. Stroke Hemoragik (SH) :
1. Perdarahan intra serebrum
2. Perdarahan sub arachoid
3. Syndrom batang otak
4. Apopleksia sanguine serebri
5. Trombosis system vena








BAGAN PATOFISIOLOGI
Suplai O₂
Aliran darah otak
Fungsi otak
Sumbatan pembuluh darah otak Pecahnya pembuluh darah otak
Hypoksia dan Anoreksia Perdarahan intra serebral
Iskemik jaringan: Aliran darah dalam parenkim otak:
- Tekanan perfusi rendah - Penekanan otak
- PO₂ turun - Pergeseran otak
- PCO₂ naik - Pemisahan otak
- Penimbunan asam laktat
Merangsang pusat vasomotor, Edema otak dan herniasi otak
Tekanan darah sistemik meningkat
Bradikardi - sakit kepala
Infark jaringan - penurunan tingkat kesadaran
Permanen - Hemiparese / paralisis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Computerized Tomography Scanning Kepala (CT Scan Kepala), menunjukkan lokasi dan
luasnya perdarahan atau infark.
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI), menunjukkan edema atau Infark, bergesernya struktur otak.
3. Arteriography Cerebral
Elektro ensefalography (EEG), menunjukkan transmisi impuls saraf.
4. Fungsi Lumbal, tekanan intracranial meningkat/normal.

VI. PENATALAKSANAAN
a. Prinsip penatalaksanaan stroke iskemik atau stroke non hemoragik (SNH) :
1. Vasodilator untuk meningkatkan suplai O₂ ke otak.
2. Pemberian obat atau cairan anti edema otak.
3. Pemberian obat anti koagulan/antiagresiplatelet.
4. Memperbaiki metabolism otak.
5. Trombectomy/Embelectomy.
6. Diit rendah lemak dan rendah kolesterol.
7. Identifikasi dan mengobati penyebab emboli.
b. Prinsip penatalaksanaan stroke hemoragik :
1. Pemberian obat antifibrinolitik
2. Pemberian obat anti edema
c. Prinsip perawatan
1. Pembebasan jalan napas
2. menjaga tekanan darah yang mencukupi kebutuhan otak
3. Mencegah atau mengurangi edema otak
4. Memperhatikan miksi dan keseimbangan cairan
5. Memperhatikan defikasi dan nutrisi
6. Mengontrol fungsi-fungsi vital dan kesadaran (GCS)
7. Mengontrol komplikasi
8. Mencegah serangan ulang
9. Rehabilitasi baik medik atau social




B. KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE / CVA

I. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
2. Keluhan utama
umumnya klien dating dengan keluhan sakit kepala, kelelahan, kelemahan, penurunan fungsi penglihatan, mual, kesemutan, mati rasa atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang : Adanya hemiparesis atau hemiparalisis disertai sakit kepala pada daerah yang mengalami gangguan peredaran darah otak, aphsia, gangguan tingkat kesadaran, keluarganya menyatakan tentang timbulnya serangan yang mendadak.
b. Riwayat kesehatan masa lalu : Adanya factor resiko.
c. Riwayat kesehatan keluarga : Adanya keluarga dengan riwayat hipertensi, DM, Jantung.
4. Aktivitas dan Istirahat
Subjektif : kesulitan aktfitas karena kelemahan, kesulitan istirahat karena kejang otot / nyeri.
Objektif : Penurunan kesadaran, penurunan kekuatan otot.
5. Eliminasi
Subjektif : Perubahan pola eliminasi
Objektif : Anuria, inotenensia.
6. Nutrisi
Subjektif : penurunan nafsu makan, mual, muntah (peningkatan tekanan intracranial).
Objektif : Gangguan mengunyah.
7. Kenyamanan / nyeri
Subjektif : Nyeri kepala
Objektif : Gelisah, tindakan berhati-hati, ekspresi wajah tegang.
8. Pernapasan
Subjektif : Sesak napas.
Objektif : Batuk, kesulitan bernapas.
9. Neurologi
Subjektif : Nyeri kepala, penurunan penglihatan, penurunan lapang pandang, gangguan penciuman.
Objektif : Pernurunan kesadaran, kelemahan ekstremitas, afasia.
10. Psikologis
Subjektif : Merasa tidak berdaya.
Objektif : Tidak kooperatif, emosi labil, kesukaran mengekspresikan perasaan.

II. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL :
1. Gangguan perfusi darah otak berhubungan dengan sumbatan pembuluh darah otak, spasme serebral, edema serebral, peningkatan TIK.
2. Keterbatasan aktivitas berhungan dengan paralise, hemiparise.
3. Gangguan komunikasi / bicara berhubungan dengan kerusakan area pusat pembicaraan di otak.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot menelan, depresi, penurunan kesadaran, ketidakmampuan makan sendiri.
5. Ketidakmampuan perawatan diri berhubungan dengan gangguan mobilitas fisik dan perubahan dalam proses berfikir.

III. RENCANA KEPERAWATAN
1. Diagnosa : Gangguan perfusi darah otak berhubungan dengan sumbatan pembuluh darah otak, spasme serebral, edema serebral, peningkatan TIK.
Tujuan : Perfusi darah otak normal.
Intervensi :
a. Kaji factor penyebab
b. Kaji status neurologic secara teratur per 4 jam dan kolaborasikan kelainan.
c. Monitor vital sign
d. Kaji perubahan penglihatan
e. Kaji kemampuan bicara dan komunikasi
f. Posisikan klien dengan kepala agak tinggi
g. Atur lingkungan tenang, kurangi aktivitas yang kurang berarti
h. Monitor perdarahan jika menggunakan heparin
Kolaboratif :
a. Beri O₂
b. Beri Antikuagulan
c. Monitor laboratorium : pemeriksaan protrombin.

2. Diagnosa : Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan area pusat pembicaraan di otak.
Tujuan : Gangguan komunikasi dapat diatasi
Intervensi :
a. Kaji tingkat gangguan fungsi bicara
b. Observasi apakah klien mengalami aphasia atau disatria
c. Buat catatan apabila klien mengalami gangguan bicara, sediakan bel khusus untuk pasien tersebut.
d. Lakukan pembicaraan langsung secara pelan-pelan dan jelas
e. Sediakan semua kebutuhan didekat klien
f. Berikan metode alternative mengekspresikan perasaan melalui tulisan menggunakan gambar, atau bahasa isyarat.
Kolaborasi : Pelatihan terapi bicara

3. Diagnosa : Keterbatasan aktivitas berhungan dengan paralise, hemiparise.
Tujuan : Aktivitas terpenuhi, komplikasi akibat imobilisasi minimal.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan aktivitas
b. Rubah posisi tiap 2 jam
c. Latih gerak (ROM)
d. Kaji keadekuatan sirkulasi : warna kulit, edema
e. Observasi integritas kulit
f. Motivasi klien untuk aktivitas
Kolaborasi :
a. Fisiotherapi
b. Beri obat multivitamin


POHON MASALAH


















IV. KOMPLIKASI
1. Komplikasi yang terjadi dapat bersifat neurologi atau non neurologi
2. Komplikasi yang bersifat neurologi sebagai akibat dari infark otak adalah :
a. Edema otak, dengan gejala awal penurunan kesadaran dan meningkatnya tekanan intracranial.
b. Hematoma intracranial
c. Hydroseplus akibat bekuan darah diruang sub arachnoid yang memblokir disekitar batk otak.
3. Komplikasi yang sifatnya non neurologic dan merupakan akibat dari perawatan diantaranya adalah kontraktor sendi, decubitus, pneumonia hipostatik, atropi otot, phlebitis dan kencing batu.

V. PENCEGAHAN
1. Pencegahan primer :
a. PenKes : mencegah penyakit vaskuler
b. Memasyarakatkan gya hidup bebas stroke :
- Hindari rokok, stress mental, alcohol, kegemukan, konsumsi garam berlebihan
- Batasi konsumsi kolesterol, lemak
- Kendalikan hipertensi, DM, penyakit vaskuler
2. Pencegahan sekunder :
a. Modifikasi resiko dengan gaya hidup bebas stroke
b. Melibatkan keluarga dalam modifikasi factor resiko
c. Penggunaan obat antikoagulan : asetosal.








DAFTAR PUSTAKA
Penuntun Neurologi, Edisi II, 1992, Soemarmo Markam, Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Kapita Selecta Neurologi, Edisi II, 1996, dr. Harsono, dss. Gajah Mada University press, Yogyakarta.

Neurologis Klinis Dasar, 1981. Mahar Mardjono dan Bighura Sidarta, penerbit PT Dian Rakyat, Jakarta.





















C. ASUHAN KEPERAWATAN
PADA NY. R DENGAN STROKE NON HEMORAGIK
DI RUANG RKPD RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA


I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
1. Identitas klien
Nama : Ny. R
Umur : 65 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Alamat : Banjarbaru
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku Bangsa : Madura/Indonesia
Status Material : Kawin (janda)
Tanggal masuk RS : 29 oktober 2008 jam.16.00 WITA
Ruang rawat : RKPD (ruang Dahlia 2)
Diagnosa medis : Stroke Non Hemoragik
Tanggal pengkajian : 30 oktober 2008

2. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. S
Umur : 45 tahun
Pendidikan : SMEA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Sapta Marga RT.10/03 No. 78 Banjarbaru
Hubungan dgn klien : Menantu

B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan utama masuk rumah sakit
Klien datang dengan keluhan kelemahan pada tangan sebelah kanan dan pada kedua belah kaki.
2. Keluhan saat pengkajian
Keluarga klien mengatakan bahwa tangan kanan dan kedua belah kaki klien masih tidak bias digerakkan, klien masih merasa pusing, dank lien tida bias berbicara dengan jelas. Semua aktivitas klien selalu dibantu oleh anak dan keluarga klien.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pada tanggal 29 oktober 2008, jam 15.00 WITA klien mendadak mengalami kelemahan pada tangan sebelah kanan dan pada kedua kaki. Kemudian oleh keluarga klien dibawa ke Rumah Sakit.
Tanggal 30 oktober klien masih tidak bias menggerakkan tangan kanan dan kedua kakinya, klien juga masih merasa pusing dan tidak bias berbicara dengan jelas.
4. Riwayat kesehatan masa lalu
Klin dengan riwayat hipertensi, pemeriksaan tekanan darah pernah mencapai 200 mmhg, klien sudah pernah mengalami kelemahan pada tangan sebelah kanan dan kali ini adalah untukm yang keempat kalinya klien masuk rumah sakit.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Adik klien mempunyai riwayat penyakit hipertensi.






Keterangan : = laki-laki = meninggal = klg dg riwayat HT
= perempuan = klien
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda vital
● Kualitas : Compos mentis
● Kuantitas :
- Respon buka mata : spontan membuka mata (4)
- Respon motorik : mengikuti perintah (6)
- Respon verbal : berorientasi dengan baik (5)
Jumlah : 15
Kesimpulan : klien sadar penuh
● TD : 180/100 mmhg
● Nadi : 85 x/menit
● Suhu : 37°C
● Frekuensi napas : 24 x/menit

2. Pemeriksaan sistematis
a. Kepala
Bentuk mesosefal, simetris, distribusi rambut merata.
b. Mata
Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, reflek pupil mengecil terhadap rangsang cahaya.
c. Hidung
Secret tidak ada, pernapasan cuping hidung tidak ada, bias membedakan bau.
d. Telinga
Simetris, tidak ada lesi, ada sedikit serumen dikanal.
e. Mulut
Gigi sebagian sudah copot, lidah sedikit kotor.
f. Leher
Tidak ada pembesaran getah bening, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada kaku kuduk.
g. Thorax dan pernapasan
Inspeksi : Simetris,tidak ada benjolan atau lesi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : resonan
Auskultasi : tidak ada ronchi, tidak ada wheezing.
h. Pemeriksaan jantung
Auskultasi : tidak ada bunyi jantung tambahan
i. Abdomen
Inspeksi : bentuk datar, tidak ada lesi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : bunyi timpani
Auskultasi : bising usus 10x/menit
j. Lengan dan tungkai
Tidak ada edema, rentang gerak terbatas, tangan sebelah kanan dan kedua kaki tidak bisa digerakkan tanpa bantuan, infuse terpasang ditangan sebelah kanan.
Kekuatan otot : skala : 2 5
2 2
Keterangan: kekuatan otot dinilai dengan cara :
Derajat 5 : Kekuatan normal, seluruh gerakan dapat dilakukan otot dengan tahanan maksimal.
Derajat 4 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat da juga melawan tahanan ringa dan sedang dari pemeriksa.
Derajat 3 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat, tetapi tidak dapat melawan tahanan dari pemeriksa.
Derajat 2 : otot hanya dapat bergerak bila gaya berat dihilangkan.
Derajat 1 : kontraksi otot minimal dapat terasa atau teraba pada otot bersangkutan tanpa mengakibatkan gerakan.
Derajat 0 : tidak ada kontraksi sama sekali.


D. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
No Kegiatan Dirumah Dirumah sakit
1






2



3




4








5. Pola makan :
- frekuensi
- Jenis diit
- Komposisi
- Napsu makan
- Porsi yg dihabiskan

Pola tidur :
- lama tidur siang
- lama tidur malam

Pola personal hygiene :
- mandi
- gosok gigi
- cuci rambut

Pola eliminasi :
a.BAB
-frekuensi
- konsistensi
- warna
b. BAK
- frekuensi
- warna

Pola aktivitas
3 x sehari
Nasi
Lauk pauk + sayur
Baik
Penuh


1-2 jam sehari
6-8 jam sehari


2 x sehari
1 x sehari
2 x seminggu



1 x sehari
Lembek
Kekuningan

3-4 x sehari
Kekuningan

Sebagian aktivitas klien dibantu oleh anak dan keluarga klien
3 x sehari
Bubur RG
Lauk pauk+sayur+buah
Kurang
¾ dari porsi


Tak menentu
5-6 jam sehari


Tidak dilakukan
Hanya berkumur-kumur
Tidak dilakukan



Mulai masuk RS sampai dikaji klien belum ada BAB

Saat dikaji klien sudah menggunakan DC untuk BAK, warna kekuningan.
Semua aktivitas klien dibantu oleh anak dan keluarga klien.
E. DATA PSIKOLOGIS
Keadaan emosi klien terkontrol, respon klien terhadap perawat dan hal lainnya baik.

F. DATA SOSIAL
Klien berinteraksi dengan baik dengan perawat, keluarga maupun orang lain.

G. DATA SPIRITUAL
Klien dapat menerima keadaan dengan sedikit kecemasan terhadap kemungkinan kecacatan dan klien berdo’a memohon kesembuhan.

H. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium
Jenis pemeriksaan Nilai Nilai Normal
Pemeriksaan kimia klinik :
- gula darah sewaktu
- Ureum
- Creatinin
- Cholesterol total
137 mg/dl
46 mg/dl
1,1 mg/dl
184 mg/dl
70-115 mg/dl
20-35 mg/dl
0,5-0,9 mg/dl
150-250 mg/dl
Pemeriksaan Hematologi :
-HB
- Jumlah leukosit
- LED
-Basofil
- Eosinofil
- Stab/batang
- Segmen
- limfosit
- Monosit
11,2 gr %
7000 /mm³
55 mm/jam
0 %
1 %
2 %
49 %
46 %
2 %
12,0-16 gr %
5000-10.000 gr %
0-15 mm/jam
0-1 %
1-3 %
2-6 %
50-70 %
20-40 %
2-8 %

2. Program therapy :
1. Lasix 1 gr (IV)
2. Piracetam 2 x 3 gr (IV)
3. Lancholin 2 x 1 gr (IV)
4. Efotax 2 x 1 gr (IV)

3. Diet yang diberikan : BB RG.

II. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah
1












2





3
DS : keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak bias menggerakkan tangan sebelah kanan dan kedua kakinya.
DO : -Rentang gerak terbatas, tangan kanan dan kedua kaki tidak bias digerakkan.
- Aktivitas selalu dibantu
- Skala kekuatan otot :
2 5
2 2

DS : -
DO: - klien terlihat selalu dalam keadaan posisi telentang
- ada kelemahan pada tangan sebelah kanan dan kedua kaki.
DS : -
DO: klien tidak bisa berbicara dengan jelas Adanya hemiparise












Adanya hemiparise





Kerusakan area pembicaraan diotak Intoleran aktivitas












Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit




Gangguan komunikasi / bicara

III. PRIORITAS MASALAH
1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan aktivitas selalu dibantu oleh keluarga, rentang gerak terbatas, anggota gerak knan tidak bias digerakkan. Skala kekuatan otot : 2 5
2 2

2. Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan klien terus telentang ditempat tidur, ada kelemahan pada tangan kanan dan kedua kaki.

3. Gangguan komunikasi / bicara berhubungan dengan kerusakan area pembicaraan diotak ditandai dengan klien tidak bisa berbicara dengan jelas.



















IV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasional
1










2











3 Intoleran aktivitas berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan aktivitas selalu dibantu oleh keluarga, rentang gerak terbatas, anggota gerak knan tidak bias digerakkan. Skala kekuatan otot : 2 5
2 2

Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan klien terus telentang ditempat tidur, ada kelemahan pada tangan kanan dan kedua kaki.



Gangguan komunikasi / bicara berhubungan dengan kerusakan area pembicaraan diotak ditandai dengan klien tidak bisa berbicara dengan jelas.
Tujuan : aktivitas dapat terpenuhi.
Kriteria hasil : dapat melakukan aktivitas secara bertahap.






Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria hasil :
a. tidak ada tanda-tanda kerusakan integritas kulit.
b. Kebersihan kulit terjaga.




Tujuan : gangguan komunikasi dapat berkurang
Kriteria hasil : klien bisa berkomunikasi dengan baik. 1. Kaji kemampuan aktivitas klien

2. Motivasi klien untuk beraktivitas
3. Latih gerak ROM
4. Kolaborasi untuk fisiotherapy




1.Berikan penjelasan tentang pentingnya menjaga kebersihan kulit.
2.Bantu klien mengubah posisi tidur setiap 2-4 jam.
3.Motivasi klien untuk melakukan aktivitas perawatan diri.
4.Observasi adanya tanda-tanda kerusakan kulit (lesi,kemerahan).

1. lakukan pembicaraan langsung secara pelan-pelan dan jelas.
2. Sediakan semua kebutuhan didekat klien
3. Berikan metode alternative mengekspresikan perasaan melalui tulisan/gambar/ bahasa isyarat. 1. Tingkat kemampuan aktivitas klien dapat diketahui.
2. mencegah kelemahan
3. Perbaikan pergerakan otot anggota gerak.






1.Klien dapat mengerti tentang pentingnya kebersihan kulit.

2.mencegah kerusakan integritas kulit.
3.supaya kebersihan kulit selalu terjaga

4.mengetahui dengan segera apabila ada tanda-tanda kerusakan kulit untuk penanganan lebih dini.

1. Supaya antara klien dengan perawat/keluarga bias berkomunikasi dengan baik dan tidak terjadi salah pengertian.
2. memudahkan klien dalam pemenuhan kebutuhan
3. memudahkan klien untuk mengkomunikasikan semua kebutuhannya.


V. CATATAN PERKEMBANGAN
I.
Tanggal / jam Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi
30-10-2008
Jam:10.00










Jam:10.30












Jam 11.00 Intoleran aktivitas berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan aktivitas selalu dibantu oleh keluarga, rentang gerak terbatas, anggota gerak knan tidak bias digerakkan. Skala kekuatan otot : 2 5
2 2
Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan klien terus telentang ditempat tidur, ada kelemahan pada tangan kanan dan kedua kaki.



Gangguan komunikasi / bicara berhubungan dengan kerusakan area pembicaraan diotak ditandai dengan klien tidak bisa berbicara dengan jelas.
1. mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
2. memotivasi klien untuk beraktivitas.
3. melatih klien tentang gerakan ROM.
4. mengkolaborsika untuk fisiotherapy.



1. memberikan penjelasan tentang pentingnya menjaga kebersihan kulit.
2. membantu klien mengubah posisi tidur setiap 2-4 jam.
3. memotivasi klien untuk melakukan aktivitas perawatan diri.
4. mengobservasi adanya tanda-tanda kerusakan kulit.
1. melakukan pembicaraan langsung kepada klien secara pelan-pelan dan jelas.
2. memberikan metode alternative mengekspresikan perasaan melalui tulisan/gambar/bahasa isyarat.
3. menyediakan semua kebutuhan didekat klien. S : Keluarga klien menyatakan bahwa klien tidak bias melakukan aktivitas sendiri.
O : aktivitas dibantu oleh keluarga.
A : masalah belum teratasi.
P : intervensi lnjutkan




S : -
O : tidak terlihat ada tanda-tanda kerusakan kulit.
A : masalah teratasi
P : Intervensi lanjutkan








S : -
O : klien masih belum bias berbicara dengan jelas
A : masalah belum teratasi
P : Intervensi lanjutkan

II.
Tanggal / jam Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi
04-11-2008
Jam:09.00











Jam:09.15










Jam 11.00 Intoleran aktivitas berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan aktivitas selalu dibantu oleh keluarga, rentang gerak terbatas, anggota gerak knan tidak bias digerakkan. Skala kekuatan otot : 2 5
2 2

Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiparise ditandai dengan klien terus telentang ditempat tidur, ada kelemahan pada tangan kanan dan kedua kaki.

Gangguan komunikasi / bicara berhubungan dengan kerusakan area pembicaraan diotak ditandai dengan klien tidak bisa berbicara dengan jelas.
1. melatih klien tentang gerakan ROM.
2. mengajarkan dan menganjurkan untuk menggunakan sisi tubuh yang kuat untuk menyokong sisi yang lemah





1. menganjurkan klien untuk selalu menjaga kebersihan kulit.
2. membantu klien mengubah posisi tidur setiap 2-4 jam.
3. mengobservasi adanya tanda-tanda kerusakan kulit.


1. melakukan pembicaraan langsung kepada klien secara pelan-pelan dan jelas.
2. memberikan metode alternative mengekspresikan perasaan melalui tulisan/gambar/bahasa isyarat. S : Keluarga klien menyatakan bahwa klien sudah bisa melakukan aktivitas yang ringan tanpa bantuan.
O : - aktivitas yang berat masih dibantu oleh keluarga.
- kedua kaki klien sudah bisa digerakkan.
A : masalah teratasi sebagian..
P : intervensi lnjutkan
S : -
O : tidak terlihat ada tanda-tanda kerusakan kulit.
A : masalah teratasi
P : Intervensi hentikan






S : -
O : klien masih belum bisa berbicara dengan jelas
A : masalah belum teratasi
P : Intervensi lanjutkan


Catatan : klien pulang pada tanggal 04 November 2008 atas permintaan keluarga.


0 komentar:

Poskan Komentar

massage

Blog ini akan meng-update postingan setiap minggu.

Jika ada halaman yang kosong jangan hiraukan,copy-paste aja semuanya.

Dan jangan lupa kirim commentnya jika menurut anda blog ini penting


SITEMETER

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP